Mengajukan pinjaman seringkali menjadi solusi finansial bagi banyak individu maupun bisnis untuk berbagai keperluan, mulai dari modal usaha, pembelian properti, hingga kebutuhan konsumtif. Namun, dalam prosesnya, Anda mungkin akan familiar dengan istilah "agunan pinjaman" atau jaminan.Agunan adalah salah satu elemen krusial yang seringkali menjadi penentu apakah permohonan pinjaman Anda akan…
- Apa Itu Agunan Pinjaman?
- Definisi dan Fungsi Utama Agunan
- Peran Agunan dalam Proses Pinjaman
- Mengapa Bank atau Lembaga Keuangan Membutuhkan Agunan?
- Jenis-Jenis Agunan Pinjaman yang Umum Digunakan
- Agunan Berupa Properti (Tanah & Bangunan)
- Agunan Berupa Kendaraan (Mobil & Motor)
- Agunan Berupa Emas dan Logam Mulia
- Agunan Berupa Surat Berharga (Deposito, Obligasi)
- Agunan Lainnya (Piutang, Persediaan Barang)
- Proses Penilaian dan Pengikatan Agunan
- Tahapan Penilaian Nilai Agunan
- Pentingnya Legalitas dan Dokumen Agunan
- Mekanisme Pengikatan Agunan Secara Hukum
- Keuntungan dan Risiko Menggunakan Agunan
- Keuntungan Bagi Peminjam
- Keuntungan Bagi Pemberi Pinjaman
- Risiko yang Harus Diwaspadai Peminjam
- Agunan Pinjaman vs. Pinjaman Tanpa Agunan
- Perbedaan Utama dan Karakteristiknya
- Kapan Memilih Pinjaman Beragunan?
- Kapan Memilih Pinjaman Tanpa Agunan?
- Tips Memilih Agunan yang Tepat
- Pertimbangkan Nilai dan Likuiditas Agunan
- Pastikan Legalitas dan Kepemilikan Jelas
- Sesuaikan dengan Kebutuhan dan Kemampuan
- Konsekuensi Jika Gagal Membayar Pinjaman Beragunan
- Proses Peringatan dan Negosiasi
- Eksekusi Agunan oleh Pemberi Pinjaman
- Dampak Terhadap Riwayat Kredit Peminjam
- Kesimpulan
- FAQ
Mengajukan pinjaman seringkali menjadi solusi finansial bagi banyak individu maupun bisnis untuk berbagai keperluan, mulai dari modal usaha, pembelian properti, hingga kebutuhan konsumtif. Namun, dalam prosesnya, Anda mungkin akan familiar dengan istilah “agunan pinjaman” atau jaminan.
Agunan adalah salah satu elemen krusial yang seringkali menjadi penentu apakah permohonan pinjaman Anda akan disetujui atau tidak. Memahami secara mendalam apa itu agunan, jenis-jenisnya, serta bagaimana mekanismenya, sangat penting agar Anda dapat mempersiapkan diri dengan baik dan membuat keputusan finansial yang bijak. Artikel ini akan memandu Anda secara sistematis mengenai segala hal terkait agunan pinjaman.
Apa Itu Agunan Pinjaman?

Definisi dan Fungsi Utama Agunan
Agunan pinjaman, atau sering juga disebut jaminan, adalah aset berharga yang diserahkan peminjam kepada pemberi pinjaman (bank atau lembaga keuangan lainnya) sebagai bentuk pengaman atas pinjaman yang diberikan. Fungsi utamanya adalah memberikan kepastian kepada pemberi pinjaman bahwa mereka tidak akan mengalami kerugian besar jika peminjam gagal memenuhi kewajibannya untuk melunasi pinjaman.
Secara sederhana, agunan berfungsi sebagai “pegangan” bagi pemberi pinjaman. Jika peminjam tidak mampu membayar cicilan atau melunasi pinjaman sesuai kesepakatan, pemberi pinjaman memiliki hak untuk mengambil alih atau menjual aset agunan tersebut untuk menutupi sisa utang yang belum terbayar. Ini mengurangi risiko bagi pemberi pinjaman dan membuat mereka lebih percaya diri dalam menyalurkan dana.
Peran Agunan dalam Proses Pinjaman
Agunan memainkan peran sentral dalam menentukan persetujuan pinjaman, terutama untuk pinjaman dengan nominal besar. Keberadaan agunan dapat meningkatkan peluang peminjam untuk mendapatkan persetujuan pinjaman dengan syarat yang lebih menguntungkan, seperti suku bunga yang lebih rendah atau tenor yang lebih panjang.
Selain itu, agunan juga menjadi indikator keseriusan dan kemampuan peminjam. Dengan bersedia menjaminkan aset, peminjam menunjukkan komitmennya untuk melunasi pinjaman. Bagi pemberi pinjaman, ini adalah sinyal positif yang menunjukkan bahwa peminjam memiliki aset yang cukup untuk menanggung risiko jika terjadi gagal bayar.
Mengapa Bank atau Lembaga Keuangan Membutuhkan Agunan?
Kebutuhan bank atau lembaga keuangan akan agunan didasari oleh prinsip manajemen risiko. Setiap pinjaman mengandung risiko gagal bayar. Tanpa agunan, jika peminjam tidak mampu membayar, bank bisa kehilangan seluruh dana yang telah disalurkan. Agunan bertindak sebagai “bantal pengaman” finansial.
Selain itu, adanya agunan juga memungkinkan bank untuk menawarkan produk pinjaman dengan nominal yang lebih besar dan suku bunga yang lebih kompetitif. Ini karena risiko yang ditanggung bank menjadi lebih kecil dibandingkan dengan pinjaman tanpa agunan. Dengan demikian, agunan menciptakan situasi win-win, di mana peminjam bisa mendapatkan akses ke dana yang lebih besar, dan pemberi pinjaman merasa lebih aman.
Jenis-Jenis Agunan Pinjaman yang Umum Digunakan
Agunan Berupa Properti (Tanah & Bangunan)
Agunan properti adalah salah satu jenis agunan yang paling umum dan bernilai tinggi. Ini meliputi tanah kosong, rumah tinggal, ruko, apartemen, atau bangunan komersial lainnya. Properti sering menjadi pilihan utama karena nilainya yang cenderung stabil bahkan meningkat seiring waktu, serta memiliki dokumen kepemilikan yang jelas seperti Sertifikat Hak Milik (SHM) atau Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB).
Pinjaman dengan agunan properti biasanya digunakan untuk kredit kepemilikan rumah (KPR), kredit investasi, atau pinjaman multiguna dengan plafon besar. Proses penilaiannya melibatkan appraisal oleh pihak ketiga yang independen untuk menentukan nilai pasar wajar properti tersebut.
Agunan Berupa Kendaraan (Mobil & Motor)
Kendaraan bermotor, baik mobil maupun motor, juga sering dijadikan agunan, terutama untuk pinjaman dengan nominal menengah. Dokumen kepemilikan seperti Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) menjadi syarat utama. Nilai kendaraan akan dinilai berdasarkan kondisi fisik, tahun pembuatan, merek, dan model.
Meskipun lebih likuid dibandingkan properti, nilai kendaraan cenderung mengalami depresiasi atau penurunan seiring waktu. Oleh karena itu, pemberi pinjaman biasanya akan memberikan pinjaman dengan persentase tertentu dari nilai taksasi kendaraan, dan pinjaman ini seringkali memiliki tenor yang lebih pendek.
Agunan Berupa Emas dan Logam Mulia
Emas batangan, perhiasan emas, atau logam mulia lainnya merupakan agunan yang sangat likuid dan mudah dicairkan. Nilainya relatif stabil dan bahkan bisa meningkat, menjadikannya pilihan menarik untuk pinjaman jangka pendek atau gadai. Lembaga keuangan seperti pegadaian seringkali menerima jenis agunan ini.
Keunggulan agunan emas adalah proses penilaian yang cepat dan pencairan dana yang instan. Namun, nominal pinjaman yang bisa didapatkan biasanya tidak terlalu besar, tergantung pada berat dan kadar emas yang dijaminkan.
Agunan Berupa Surat Berharga (Deposito, Obligasi)
Surat berharga seperti sertifikat deposito, obligasi pemerintah, atau saham, juga dapat dijadikan agunan. Jenis agunan ini sangat diminati karena nilainya yang jelas dan risikonya yang rendah bagi pemberi pinjaman. Deposito, misalnya, memiliki nilai yang pasti dan mudah dieksekusi.
Pinjaman dengan agunan surat berharga seringkali ditawarkan dengan suku bunga yang sangat kompetitif dan proses yang cepat karena tidak memerlukan penilaian fisik aset. Pemberi pinjaman cukup menahan sertifikat deposito atau dokumen kepemilikan obligasi sebagai jaminan.
Agunan Lainnya (Piutang, Persediaan Barang)
Selain jenis-jenis di atas, beberapa jenis agunan lain juga dapat diterima, terutama untuk pinjaman bisnis. Ini termasuk piutang usaha (tagihan yang belum dibayar oleh pelanggan), persediaan barang dagangan, atau mesin-mesin industri. Agunan jenis ini umumnya memerlukan penilaian yang lebih kompleks dan pemahaman mendalam tentang operasional bisnis peminjam.
Untuk piutang, pemberi pinjaman akan menilai kualitas piutang dan rekam jejak pembayaran pelanggan. Sementara untuk persediaan barang, akan dinilai jenis barang, perputaran, dan nilai pasar. Agunan ini lebih spesifik dan biasanya ditawarkan oleh bank atau lembaga keuangan yang memiliki fokus pada pembiayaan sektor bisnis tertentu.
Proses Penilaian dan Pengikatan Agunan
Tahapan Penilaian Nilai Agunan
Sebelum agunan disetujui, pemberi pinjaman akan melakukan penilaian untuk menentukan nilai pasar wajar dari aset tersebut. Tahapan ini sangat krusial karena akan menentukan berapa plafon pinjaman yang bisa diberikan. Untuk properti, proses ini melibatkan jasa penilai independen (appraiser) yang akan memeriksa kondisi fisik, lokasi, dan membandingkannya dengan properti serupa yang baru saja terjual di area tersebut.
Untuk kendaraan, penilaian dilakukan berdasarkan kondisi fisik, tahun pembuatan, merek, model, dan harga pasar kendaraan sejenis. Sedangkan untuk emas atau surat berharga, penilaian lebih mudah karena harganya yang cenderung standar atau nilai nominalnya sudah tertera jelas. Hasil penilaian ini akan menjadi dasar perhitungan Loan to Value (LTV), yaitu rasio antara jumlah pinjaman yang diberikan dengan nilai agunan.
Pentingnya Legalitas dan Dokumen Agunan
Aspek legalitas agunan adalah fondasi utama dalam setiap transaksi pinjaman beragunan. Pemberi pinjaman akan memastikan bahwa aset yang dijaminkan memiliki dokumen kepemilikan yang sah dan lengkap, serta tidak sedang dalam sengketa atau dijaminkan kepada pihak lain. Misalnya, untuk properti, diperlukan sertifikat hak milik atau hak guna bangunan, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang lunas.
Tanpa dokumen yang lengkap dan sah, agunan tidak dapat diterima. Hal ini untuk melindungi pemberi pinjaman dari risiko hukum di kemudian hari, serta memastikan bahwa aset tersebut benar-benar dapat dieksekusi jika terjadi gagal bayar. Peminjam wajib menyiapkan semua dokumen asli yang relevan untuk proses verifikasi.
Mekanisme Pengikatan Agunan Secara Hukum
Setelah agunan dinilai dan dokumennya diverifikasi, langkah selanjutnya adalah pengikatan agunan secara hukum. Pengikatan ini bertujuan untuk memberikan kekuatan hukum kepada pemberi pinjaman atas aset yang dijaminkan. Bentuk pengikatan bervariasi tergantung jenis agunannya. Untuk properti, pengikatan dilakukan melalui Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang dibuat oleh Notaris/PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) dan didaftarkan di Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Untuk kendaraan, pengikatan dilakukan melalui Fidusia yang didaftarkan di Kementerian Hukum dan HAM. Sementara untuk emas atau surat berharga, biasanya cukup dengan penahanan fisik aset atau dokumen kepemilikan oleh pemberi pinjaman, disertai dengan perjanjian gadai atau perjanjian penjaminan. Pengikatan ini memastikan bahwa pemberi pinjaman memiliki hak prioritas atas agunan tersebut dibandingkan kreditur lain.
Keuntungan dan Risiko Menggunakan Agunan

Keuntungan Bagi Peminjam
Menggunakan agunan dalam pinjaman menawarkan beberapa keuntungan signifikan bagi peminjam. Pertama, peluang persetujuan pinjaman menjadi jauh lebih tinggi, terutama untuk pinjaman dengan nominal besar. Kedua, peminjam cenderung mendapatkan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan pinjaman tanpa agunan, karena risiko bagi pemberi pinjaman berkurang.
Ketiga, tenor pinjaman bisa lebih panjang, memberikan kelonggaran dalam pembayaran cicilan bulanan. Keempat, plafon pinjaman yang bisa didapatkan juga lebih besar, memungkinkan peminjam untuk memenuhi kebutuhan finansial yang lebih substansial. Ini semua membuat pinjaman beragunan menjadi pilihan yang menarik bagi mereka yang memiliki aset untuk dijaminkan.
Keuntungan Bagi Pemberi Pinjaman
Bagi pemberi pinjaman, agunan adalah alat mitigasi risiko yang sangat efektif. Dengan adanya agunan, risiko kredit macet dapat diminimalisir. Jika peminjam gagal bayar, pemberi pinjaman memiliki hak untuk mengeksekusi agunan untuk menutupi kerugian. Ini memberikan rasa aman dan kepercayaan diri bagi mereka untuk menyalurkan dana.
Selain itu, agunan juga memungkinkan pemberi pinjaman untuk memperluas jangkauan produk pinjaman mereka, menawarkan pinjaman dengan nominal yang lebih bervariasi dan syarat yang lebih fleksibel. Hal ini pada akhirnya dapat meningkatkan volume bisnis dan profitabilitas mereka.
Risiko yang Harus Diwaspadai Peminjam
Meskipun banyak keuntungannya, menggunakan agunan juga membawa risiko yang harus diwaspadai peminjam. Risiko terbesar adalah kehilangan aset yang dijaminkan jika terjadi gagal bayar. Apabila Anda tidak mampu melunasi pinjaman, aset berharga Anda seperti rumah atau mobil bisa disita dan dijual oleh pemberi pinjaman.
Selain itu, proses pengikatan agunan juga memerlukan biaya tambahan seperti biaya notaris, biaya appraisal, dan biaya administrasi lainnya. Peminjam juga harus memastikan bahwa aset yang dijaminkan tetap terpelihara dengan baik, karena kerusakan atau penurunan nilai agunan bisa berpotensi mempengaruhi perjanjian pinjaman.
Agunan Pinjaman vs. Pinjaman Tanpa Agunan

Perbedaan Utama dan Karakteristiknya
Perbedaan mendasar antara pinjaman beragunan (secured loan) dan pinjaman tanpa agunan (unsecured loan) terletak pada adanya jaminan. Pinjaman beragunan mewajibkan peminjam untuk menyerahkan aset sebagai jaminan, sementara pinjaman tanpa agunan tidak. Karakteristik ini memengaruhi banyak aspek dari pinjaman itu sendiri.
Pinjaman beragunan umumnya menawarkan plafon yang lebih besar, suku bunga lebih rendah, dan tenor yang lebih panjang. Sebaliknya, pinjaman tanpa agunan biasanya memiliki plafon lebih kecil, suku bunga lebih tinggi, dan tenor lebih pendek. Ini karena risiko yang ditanggung pemberi pinjaman jauh lebih besar pada pinjaman tanpa agunan.
Kapan Memilih Pinjaman Beragunan?
Pinjaman beragunan sangat cocok dipilih ketika Anda membutuhkan dana dalam jumlah besar, misalnya untuk membeli properti, mengembangkan usaha, atau membiayai pendidikan yang mahal. Jika Anda memiliki aset berharga yang tidak sedang digunakan dan bersedia menjaminkannya, pinjaman beragunan bisa menjadi opsi terbaik untuk mendapatkan syarat pinjaman yang paling menguntungkan.
Pilihan ini juga ideal jika Anda memiliki riwayat kredit yang belum terlalu kuat, karena adanya agunan dapat meningkatkan kepercayaan pemberi pinjaman. Pastikan Anda yakin dengan kemampuan Anda untuk membayar cicilan agar tidak kehilangan aset yang dijaminkan.
Kapan Memilih Pinjaman Tanpa Agunan?
Pinjaman tanpa agunan, seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau kartu kredit, lebih cocok untuk kebutuhan dana mendesak dengan nominal yang tidak terlalu besar. Contohnya, untuk renovasi kecil, biaya pengobatan darurat, atau kebutuhan konsumtif lainnya. Keuntungannya adalah proses pengajuan yang lebih cepat dan tidak memerlukan aset sebagai jaminan.
Namun, Anda harus siap dengan suku bunga yang lebih tinggi dan tenor yang lebih singkat. Pinjaman tanpa agunan sangat bergantung pada riwayat kredit dan skor kredit Anda. Semakin baik skor kredit Anda, semakin besar peluang Anda untuk mendapatkan pinjaman tanpa agunan dengan syarat yang lebih baik.
Tips Memilih Agunan yang Tepat

Pertimbangkan Nilai dan Likuiditas Agunan
Saat memilih agunan, pertimbangkan dua hal utama: nilai dan likuiditas. Nilai agunan akan menentukan berapa besar pinjaman yang bisa Anda dapatkan. Pilihlah aset yang nilainya stabil atau cenderung meningkat, seperti properti atau emas. Hindari aset yang nilainya cepat terdepresiasi kecuali Anda tidak memiliki pilihan lain.
Likuiditas mengacu pada seberapa mudah aset dapat diubah menjadi uang tunai. Emas dan surat berharga memiliki likuiditas tinggi, sementara properti memiliki likuiditas lebih rendah. Agunan yang likuid memudahkan pemberi pinjaman jika harus melakukan eksekusi, dan ini bisa tercermin pada syarat pinjaman yang lebih baik untuk Anda.
Pastikan Legalitas dan Kepemilikan Jelas
Ini adalah poin krusial. Pastikan aset yang akan Anda jadikan agunan memiliki dokumen kepemilikan yang sah, lengkap, dan tidak dalam sengketa. Periksa kembali sertifikat, BPKB, atau bukti kepemilikan lainnya. Pastikan nama yang tertera di dokumen adalah nama Anda atau nama pihak yang memberikan izin secara sah.
Legalitas yang jelas akan mempercepat proses persetujuan pinjaman dan menghindari masalah hukum di kemudian hari. Pemberi pinjaman akan sangat ketat dalam memeriksa aspek ini untuk melindungi diri mereka dari risiko penipuan atau klaim kepemilikan ganda.
Sesuaikan dengan Kebutuhan dan Kemampuan
Jangan sampai agunan yang Anda pilih justru membebani atau mengganggu kehidupan Anda. Pilihlah agunan yang sesuai dengan nominal pinjaman yang Anda butuhkan dan pastikan Anda memiliki kemampuan untuk membayar cicilan. Jangan menjaminkan aset yang sangat vital bagi hidup Anda jika ada opsi lain yang lebih aman.
Pikirkan skenario terburuk: bagaimana jika Anda gagal bayar? Apakah Anda siap kehilangan aset tersebut? Pertimbangkan juga biaya-biaya terkait agunan seperti biaya perawatan, pajak, atau asuransi yang mungkin harus Anda tanggung selama masa pinjaman.
Konsekuensi Jika Gagal Membayar Pinjaman Beragunan

Proses Peringatan dan Negosiasi
Jika peminjam mulai kesulitan membayar cicilan, pemberi pinjaman biasanya tidak langsung mengeksekusi agunan. Mereka akan memulai dengan proses peringatan dan upaya negosiasi. Peminjam akan menerima surat teguran atau panggilan telepon dari pihak bank. Pada tahap ini, sangat penting bagi peminjam untuk proaktif berkomunikasi dengan pemberi pinjaman.
Dalam beberapa kasus, bank mungkin bersedia untuk merestrukturisasi pinjaman, misalnya dengan memperpanjang tenor, menurunkan suku bunga, atau memberikan penundaan pembayaran sementara, asalkan peminjam menunjukkan itikad baik dan memiliki rencana pembayaran yang realistis.
Eksekusi Agunan oleh Pemberi Pinjaman
Apabila upaya negosiasi gagal dan peminjam tetap tidak dapat memenuhi kewajibannya, pemberi pinjaman memiliki hak untuk mengeksekusi agunan. Proses eksekusi ini dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan perjanjian yang telah disepakati di awal. Untuk properti, eksekusi biasanya melalui lelang umum oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
Dana hasil penjualan agunan akan digunakan untuk melunasi sisa utang peminjam, termasuk denda dan biaya-biaya terkait eksekusi. Jika ada sisa dana setelah utang terlunasi, sisa tersebut akan dikembalikan kepada peminjam. Namun, jika hasil penjualan tidak mencukupi, peminjam masih memiliki kewajiban untuk melunasi kekurangannya.
Dampak Terhadap Riwayat Kredit Peminjam
Gagal membayar pinjaman beragunan, bahkan jika agunan telah dieksekusi, akan memiliki dampak serius pada riwayat kredit peminjam. Informasi ini akan tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang sebelumnya dikenal sebagai BI Checking.
Riwayat kredit yang buruk akan menyulitkan peminjam untuk mendapatkan pinjaman atau fasilitas kredit lainnya di masa depan, baik dari bank maupun lembaga keuangan lainnya. Ini bisa menghambat rencana finansial jangka panjang, seperti pembelian rumah, kendaraan, atau pengajuan modal usaha. Oleh karena itu, menjaga riwayat kredit tetap baik adalah hal yang sangat penting.
Kesimpulan
Agunan pinjaman adalah elemen fundamental dalam dunia perkreditan yang berfungsi sebagai pengaman bagi pemberi pinjaman dan sekaligus membuka peluang bagi peminjam untuk mendapatkan akses dana yang lebih besar dengan syarat yang lebih menguntungkan. Memahami definisi, jenis-jenis, proses penilaian, serta konsekuensi dari agunan adalah kunci untuk membuat keputusan finansial yang cerdas dan bertanggung jawab.
Dengan persiapan yang matang dan pemahaman yang komprehensif, Anda dapat memilih agunan yang tepat, memastikan kelancaran proses pinjaman, dan menghindari risiko kehilangan aset berharga. Selalu prioritaskan kemampuan bayar Anda agar terhindar dari konsekuensi gagal bayar yang dapat merugikan secara finansial dan merusak riwayat kredit Anda.
FAQ
Tidak, tidak semua pinjaman membutuhkan agunan. Ada pinjaman beragunan (secured loan) yang memerlukan jaminan aset, dan ada juga pinjaman tanpa agunan (unsecured loan) seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau kartu kredit yang tidak memerlukan aset sebagai jaminan. Pilihan tergantung pada jenis pinjaman, jumlah yang dibutuhkan, dan profil risiko peminjam.
Secara umum, aset yang dijadikan agunan harus atas nama peminjam atau memiliki persetujuan tertulis dan sah dari pemilik aset. Jika aset milik orang lain, pemilik aset harus bertindak sebagai penjamin dan menandatangani perjanjian jaminan dengan pemberi pinjaman. Ini memastikan legalitas dan hak eksekusi jika terjadi gagal bayar.
Jika nilai agunan Anda lebih tinggi dari jumlah pinjaman yang diajukan, ini justru menguntungkan Anda. Pemberi pinjaman akan merasa lebih aman, dan Anda mungkin bisa mendapatkan syarat pinjaman yang lebih baik, seperti suku bunga yang lebih rendah. Namun, nilai pinjaman yang diberikan biasanya tidak akan 100% dari nilai agunan, melainkan persentase tertentu (misalnya 70-90% untuk properti).
Likuiditas agunan adalah seberapa mudah dan cepat aset agunan dapat diubah menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai yang signifikan. Contoh agunan dengan likuiditas tinggi adalah emas atau deposito, yang mudah dijual atau dicairkan. Properti memiliki likuiditas yang lebih rendah karena proses penjualannya memakan waktu.
Lama proses penilaian agunan bervariasi tergantung jenis asetnya. Untuk properti, proses appraisal bisa memakan waktu 1-2 minggu karena melibatkan survei lapangan oleh penilai independen. Untuk kendaraan, biasanya lebih cepat, sekitar beberapa hari. Sementara untuk emas atau surat berharga, penilaian bisa dilakukan dalam hitungan jam atau bahkan menit karena nilainya lebih standar dan mudah diverifikasi.







